Dari milis

—-

Mengapa saya yg dapat musibah?

Oleh : Saiful Hamiwanto, wartawan Hidayatullah

Insya Allah, Anda kenal Sartono Mukadis, psikolog yang namanya lumayan kondang di tahun 80-an sampai 90-an. Karena penyakit diabetes, pada tahun 2000 kaki kirinya harus diamputasi hingga sebatas lututnya.
Dalam sebuah acara diskusi yang menampilkan Sartono, dua tahun silam, dosen UI ini bercerita bahwa pada mulanya dia sempat merasa terpukul atas kehilangan kakinya itu. Dia juga sempat bertanya pada Tuhan, “Kenapa saya yang mendapat musibah ini?”

Pada kesempatan lain ketika Safina (putri kedua penulis) dirawat di RSCM di kamar sebelah ada seorang ibu yang sdang menangis tersedu-sedu karena tak tega melihat anaknya yang sakit parah dan sedang menuju kepada kematiannya. Sambil menangis dia berkata, “Apa dosa saya sehingga Tuhan menjadikan anak saya sakit seperti ini?”

Lalu ibu itu berkata lirih, “Saya memang manusia biasa yang punya banyak dosa. Tapi bukankah masih banyak manusia lain yang dosanya lebih banyak daripada saya. Kenapa bukan anak mereka yang sakit seperti ini?”

Pertanyaan Pak Sartono dan ibu tersebut intinya sama: yakni mempertanyakan keadilan Tuhan. Menurut versi manusia, seharusnya Tuhan mendatangkan musibah di dunia ini tergantung pada pahala dan dosanya. Jika manusia senantiasa berbuat baik, seharusnya tidak mendapat musibah. Seharusnya hanya mereka yang berbuat jahat yang mendapat musibah.

Tapi kemudian Sartono segera menarik kembali “gugatannya” itu. “Karena sesungguhnya kitalah yang tidak adil kepada Tuhan,” Sartono memberi alasan.

“Tatkala kita mendapat nikmat dan karunia dari Allah, kita tidak pernah bertanya: kenapa saya yang mendapat nikmat ini, bukankah masih banyak orang yang lebih baik daripada saya?”

“Karena itu, tidak layak menggugat Tuhan ketika kita mendapat musibah darinya,” lanjutnya.

Kepada ibu yang sedang menangis di depan anaknya yang terbaring lemah, kami katakan, “Ibu, tidak setiap musibah itu merupakan hukuman dari Tuhan. Nabi Ayyub tidak pernah melakukan dosa besar. Tetapi Allah memberikan musibah kepadanya yang bertubi-tubi berupa kematian seluruh anaknya, habisnya seluruh harta bendanya, dan dia sendiri didera penyakit kulit yang mengeluarkan bau yang sangat busuk.

Tapi beliau tidak pernah bertanya kepada Tuhan, “Wahai Allah, aku ini Nabi-Mu, kenapa Engkau beri aku hukuman seperti ini. Bukankah seharusnya orang-orang yang berdosa itu yang Engkau beri musibah seberat ini?”

Karena Nabi Ayyub sadar bahwa musibah yang dia alami adalah semata-mata ujian dari Allah untuk memastikan apakah seorang hamba sabar dan ridha kepada Allah atas musibah yang menimpa dirinya.

Musibah Allah turunkan kepada hamba-Nya agar Dia mendengar suara hamba-Nya itu berdoa sambil menangis kepada-Nya, memohon pertolongan- Nya keluar dari kesulitan. Agar hamba-Nya yakin bahwa hanya kepada Allah, kita harapkan pertolongan.

Wahai Allah, jadikan kami orang yang bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu, serta bersabar atas musibah dari-Mu.