Era Muslim Source: Generasi Harapan itu Masih Ada

Original Writer’s Blog: keanggian.wordpress.com

Rabu, 04/08/2010 07:27 WIB | email | print | share

Oleh Dwi Asri Anggianasari

Generasi harapan itu masih ada! Itu yang bisa saya simpulkan hari ini. Lebih tepatnya tadi, saat mengajar anak-anak SD kelas 3 di bimbel-belum-bernama. Ah siapa yang peduli dengan nama bimbelnya, yang penting ilmu terbagi, jd manfaat dan sekaligus membantu seorang sahabat untuk menjalankan usaha bimbelnya ini.

Bukan tentang bimbel yang ingin saya ceritakan. Itu nanti saja. Ada bab khusus mungkin. Yang ingin saya ceritakan adalah mereka, 5 murid kelas 3 SD yang saya ajar: Afifah si Ketua Kelas yang bertanggung jawab dan cerewet, Atsila si Pendiam tapi Menghanyutkan, Azizah si Tak Pantang Menyerah, Zahra si Penolong, dan shafa si Periang yang suka makan.

Saya baru dua kali mengajar, tapi rasanya sudah dekat dengan mereka. Saya baru dua kali mengajar, tapi rasanya sudah bisa langsung tahu karakter mereka. Saya baru dua kali mengajar, tapi rasanya sudah tak sungkan bilang bahwa saya bangga pada mereka.

Hari ini, waktu 1,5 jam tidak terasa. Proses belajar mengajar yang terjadi sangat dinamis dan menyenangkan. Mereka pun mengatakan seperti itu. Dulu awalnya, saya sedikit kesulitan membuat mereka “diam” karena terlalu berisik. Bayangkan, hanya 5 anak murid saja berisiknya minta ampun. Tapi hari ini saya akhirnya sadar, bahwa mereka harus saya “ikuti” dengan tetap saya bimbing. Namanya juga anak –anak.

Hari ini adalah waktunya mata pelajaran matematika. Dan saya, Si Ang yang terkenal usil, melakukan ‘eksperimen usil’ terhadap mereka. Ku buka Bab 1 buku cetak Matematika-nya. Hmmm, tak banyak berubah dengan kurikulum yang dulu. Tapi saya ingin buat semacam ‘eksperimen’ di sini dan menjawab pertanyaan ‘eksperimen’ yang saya buat sendiri (keusilan itu): “Sampai mana otak manusia bekerja, walau ia hanya seorang anak kecil?”

Soal-soal yang disuguhkan di buku cetak, terbilang mudah bagi saya (mungkin tidak bagi mereka), tapi kita coba saja. Saya kemudian sedikit mengulas teori, analogi, logika, dan rumus (saya tidak menggunakan istilah-istilah ini pada mereka yaaaah ^^) pada Bab 1 dan Bab 2 (yang sebenarnya belum diajarkan di sekolah mereka). Setelah sedikit mengulas, baru saya coba eksperimennya. Yang saya lakukan simpel. Saya tidak membuat soal yang keluar dari teori yang diajarkan, hanya saja…. setiap angka saya buat desimal (tanpa saya jelaskan ke mereka tentang angka desimal). Saya katakan, “Adik-adik, kakak punya soal yang sangaaaaat menantang. Kamu mau coba? Coba kerjakan di kertas yah. Kalau bisa langsung tunjuk tangan”. Satu, dua, tiga soal pemanasan saya berikan. Ingat, soal menggunakan angka desimal untuk anak kelas 3 SD. Apa yang terjadi?

“SAYA SUDAH SELESAI KAK!”

“NIH KAK!”

“SAYA UDAH KAK, TAPI NGGAK SAYA TULIS GAK PAPA?”

Walau tidak semua murid bisa menjawab, tapi sebagian besar bisa! Cepat pula! Hey, ini baru soal pemanasan, Dik! Kalian baik-baik saja? Baiklah, saya kasih bintang bagi yang bisa menjawab. Lalu saya kasih lagi soal menantang (begitu istilahku) berikutnya. Apa yang terjadi?

SEMUA BISA! SEMUA DARI MEREKA BISA! Padahal wallahi, saya lebih merumitkan soalnya dengan angka desimal yang lebih banyak. Saya kaget pada hasil ‘eksperimen’ sendiri. Subhanallah… dan lebih tersentak lagi ketika Si Zahra teriak dengan suara lantangnya, “KAK, LAGI, KAK! KASIH YANG LEBIH MENANTANG.. MENANTANG.. MENANTAAANG LAGI!”. Masya Allah… Siapa mereka? Kecerdasan apa yang telah saya pancing? Sudah cukup saya bereksperiman pada otak mereka. Kasihan, nanti mereka kaget (apa saya yang kaget?).

Saya pandangi wajah kecil mereka. Matanya melengkung ke bawah: tanda tertawa, tersenyum, jenaka, saling mengejek bercanda. Bahkan ketika ada salah satu dari mereka sulit memahami maksud sebuah pertanyaan soal, yang lain membantu. Salah satunya Zahra yang meminta izin pada saya, “Kak, Azizah saya ajarin boleh?”. Subhanallah… Mereka bahkan berbagi ilmu. Dalam hati saya, itu seharusnya tugasku, Dik. Tapi tak apa. Inilah MLM Ilmu. Pahala akan terus mengalir.

Ya Alloh, mereka generasi setelah saya kah? Atau masih segenerasi dengan saya? Maka setiap guru adalah berjihad bukan? Membantu membangun generasi Rabbani-Mu?

Lalu kukecup kening mereka satu per satu, usai shalat maghrib berjamaah hari ini. Saya sayang mereka, Ya Rabb.

Jakarta, 3 Agustus 2010

Untuk kalian adik-adikku yang cerewet penuh semangat

Afifah, Azizah, Atsila, Zahra, Shafa..